Nintendo
Nintendo adalah salah satu perusahaan video game tertua dan paling ikonik di dunia, berbasis di Kyoto, Jepang. Meskipun Nintendo lebih dikenal karena konsol game (seperti Nintendo Switch, Wii, dan Game Boy) dan franchise raksasa seperti Super Mario dan The Legend of Zelda, perusahaan ini memegang peran krusial di dunia Trading Card Game (TCG), khususnya Pokémon.
Sebagai salah satu dari tiga pendiri dan pemilik saham The Pokémon Company (bersama Game Freak dan Creatures Inc.), Nintendo memiliki hak kepemilikan penuh atas merek dagang Pokémon. Secara historis, Nintendo awalnya juga merupakan pihak yang memproduksi dan mendistribusikan kartu Pokémon TCG di tahun-tahun awal perilisannya sebelum akhirnya peran tersebut diambil alih sepenuhnya oleh The Pokémon Company.
Sebagai perusahaan yang menaungi IP (Intellectual Property) terbesar di dunia, setiap kebijakan Nintendo terhadap franchise Pokémon, mulai dari rilis video game baru hingga kampanye pemasaran global, akan secara tidak langsung memengaruhi semua produk turunannya, termasuk kartu TCG.
Dampaknya di Pasar Indonesia
Peran Nintendo secara langsung memang lebih terasa di industri video game, namun dampaknya di ekosistem kartu TCG di Indonesia tetap sangat signifikan:
1. Sinergi Rilis Video Game dan Kartu Setiap kali Nintendo merilis generasi game Pokémon terbaru (seperti Pokémon Scarlet & Violet atau Sword & Shield) di Nintendo Switch, The Pokémon Company akan segera menyusul dengan merilis set kartu TCG dengan tema, karakter, dan Pokémon yang sama. Hype dari game yang dimainkan oleh gamer di Indonesia secara otomatis mendongkrak minat beli terhadap kartu TCG-nya. Kartu yang menampilkan karakter atau monster populer dari game terbaru biasanya akan mengalami lonjakan harga di pasar lokal.
2. Stabilitas dan Kepercayaan Jangka Panjang Nama besar Nintendo memberikan jaminan keamanan bagi para kolektor di Indonesia. Mengetahui bahwa kartu Pokémon didukung oleh raksasa korporasi sebesar Nintendo membuat para investor TCG di Indonesia merasa aman menyimpan kartu mereka dalam jangka waktu yang sangat panjang (puluhan tahun). Mereka percaya bahwa franchise ini tidak akan pernah mati, sehingga nilai kartu langka mereka akan terus terlindungi atau bahkan meningkat di masa depan.
3. Daya Tarik Lintas Generasi Banyak kolektor kartu di Indonesia yang memulai hobi ini karena rasa nostalgia bermain konsol Nintendo di masa kecil. Nostalgia ini sering kali menjadi pendorong utama seseorang bersedia mengeluarkan uang jutaan Rupiah di LGS atau marketplace lokal untuk membeli kartu Pokémon klasik, menjaga permintaan pasar retro tetap kuat di tanah air.