Hasbro
Hasbro, Inc. adalah sebuah perusahaan konglomerasi mainan dan hiburan multinasional asal Amerika Serikat. Sebagai salah satu produsen mainan terbesar di dunia, Hasbro memiliki portofolio merek raksasa seperti Transformers, My Little Pony, G.I. Joe, Monopoly, dan Nerf. Di industri Trading Card Game (TCG), keterlibatan Hasbro terjadi melalui anak perusahaannya yang diakuisisi pada tahun 1999, yaitu Wizards of the Coast (WotC).
Sebagai perusahaan induk, Hasbro memegang kendali penuh atas arah strategis, target pendapatan, dan kebijakan komersial WotC. Artinya, keputusan finansial tingkat atas yang dibuat oleh dewan direksi Hasbro akan langsung memengaruhi produk, kuantitas pencetakan, dan struktur harga dari Magic: The Gathering (MTG) maupun Dungeons & Dragons.
Dalam laporan keuangan Hasbro, divisi yang menaungi WotC sering kali menjadi "tulang punggung" perusahaan, mencetak profit paling besar di antara divisi mainan Hasbro lainnya.
Dampaknya di Pasar Indonesia
Meskipun Hasbro beroperasi jauh di tingkat korporasi global, tekanan finansial dari Hasbro berdampak langsung ke lantai-lantai LGS (Local Game Store) dan komunitas TCG di Indonesia:
1. Komersialisasi dan Kenaikan Harga Produk Target pertumbuhan pendapatan dari Hasbro membuat WotC merilis produk premium dengan harga selangit, seperti seri Collector Booster atau Secret Lair. Di Indonesia, kurs mata uang (Rupiah terhadap Dolar AS) yang berfluktuasi membuat produk-produk MTG premium ini terasa sangat mahal. Langkah Hasbro mengejar profit tinggi ini menciptakan kesenjangan (gap) di pasar Indonesia: pemain dengan anggaran besar (whales) mendominasi kepemilikan kartu elit, sementara pemain kasual semakin terpinggirkan.
2. Kolaborasi "Universes Beyond" Untuk menarik demografi baru demi target Hasbro, MTG secara masif merilis kartu kolaborasi (crossover) dengan IP lain melalui seri Universes Beyond, seperti The Lord of the Rings, Fallout, hingga Marvel. Hal ini membawa angin segar di Indonesia. Banyak orang yang sebelumnya tidak pernah menyentuh MTG kini masuk ke berbagai LGS di Indonesia untuk membeli kartu MTG semata-mata karena mereka adalah fans LOTR atau Marvel. Ini menciptakan lonjakan harga sesaat yang sangat drastis untuk kartu-kartu kolaborasi ini di marketplace lokal.
3. Kekhawatiran pada Jangka Panjang Pasar (Market Fatigue) Tekanan Hasbro untuk memaksimalkan keuntungan dari merek MTG menimbulkan kekhawatiran terkait "bubble" di pasar sekunder. Para spekulan dan pemilik LGS di Indonesia saat ini menjadi lebih berhati-hati dalam menimbun (hold) produk MTG. Terlalu banyaknya varian desain kartu (borderless, foil, showcase) merusak eksklusivitas tingkat kelangkaan (rarity), membuat nilai jual kembali (resale value) kartu MTG modern di pasar Indonesia cenderung jatuh lebih cepat dibandingkan kartu-kartu dari era sebelum intervensi masif Hasbro.